Karaite Jewish Congregation Orah Saddiqim – Kronologi hari raya Karaite disusun ketat dari teks Alkitab, sehingga kronologi hari raya karaite mengikuti urutan musiman dan penanggalan yang berbeda dari tradisi rabinik.
Kelompok Karaite menempatkan Alkitab Ibrani sebagai otoritas utama dalam menetapkan ibadah dan festival. Karena itu, kronologi hari raya karaite berangkat dari pembacaan literal teks, tanpa Talmud atau tradisi lisan sebagai penentu utama. Mereka menelusuri ayat yang menyebut tanggal, musim, jenis korban, serta kondisi agraris.
Salah satu prinsip utama mereka adalah penentuan bulan melalui rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung bulan sabit pertama. Bulan baru tidak ditetapkan lewat perhitungan astronomi semata, tetapi harus terlihat secara nyata. Di sisi lain, awal tahun bergantung pada musim panen jelai (abib) di Tanah Israel. Kombinasi pengamatan bulan dan musim inilah yang membentuk pola kronologi hari raya karaite sepanjang tahun.
Landasan utama dalam kronologi hari raya karaite adalah Sabat mingguan. Berdasarkan Keluaran 20:8–11 dan Ulangan 5:12–15, hari ketujuh setiap pekan dipandang sebagai hari perhentian dan pertemuan kudus. Tidak ada pekerjaan, transaksi, maupun aktivitas profan yang boleh dilakukan pada Sabat.
Sabat berfungsi sebagai poros waktu yang mengikat ritme rohani komunitas. Tiap perayaan tahunan tetap mempertimbangkan keberadaan Sabat di dalamnya. Misalnya, bila suatu hari raya jatuh dekat Sabat, komunitas akan menata persiapan sebelumnya agar tidak melanggar aturan istirahat. Dengan demikian, kronologi hari raya karaite tidak berdiri terpisah dari Sabat, tetapi justru bertumpu pada pola tujuh hari yang berulang.
Puncak awal kalender keagamaan Karaite dimulai dengan Paskah (Pesach) dan Roti Tak Beragi (Matzot) sebagaimana dicatat dalam Keluaran 12 dan Imamat 23. Menurut pembacaan Karaite, tahun baru dimulai ketika jelai di Tanah Israel mencapai tahap abib, lalu setelah terlihatnya bulan sabit pertama, barulah mereka menetapkan bulan pertama.
Pada tanggal empat belas bulan pertama, menjelang senja, mereka memperingati Paskah sebagai kenangan keluarnya Israel dari Mesir. Setelah itu, selama tujuh hari, roti beragi dilarang dan hanya roti tak beragi yang dikonsumsi. Hari pertama dan ketujuh ditetapkan sebagai pertemuan kudus. Dalam kerangka ini, kronologi hari raya karaite menempatkan Paskah dan Roti Tak Beragi sebagai gerbang resmi musim raya, yang menentukan hitungan untuk perayaan berikutnya.
Setelah Paskah dan Roti Tak Beragi, fokus beralih ke persembahan berkas jelai (Omer) dan Hari Raya Minggu-minggu (Shavuot). Imamat 23 menjelaskan bahwa sejak hari setelah Sabat, bangsa Israel harus menghitung tujuh Sabat penuh, kemudian pada hari berikutnya merayakan Shavuot. Di sinilah perbedaan besar muncul antara Karaite dan tradisi rabinik dalam menafsir istilah “hari setelah Sabat”.
Bagi Karaite, “Sabat” berarti Sabat mingguan, bukan hari raya tahunan. Artinya, hitungan dimulai dari hari pertama pekan setelah Sabat yang jatuh di dalam rangkaian Roti Tak Beragi. Akibatnya, Shavuot selalu jatuh pada hari pertama pekan, dan tanggal pastinya bergeser dari tahun ke tahun. Hal ini menguatkan karakter agraris dalam kronologi hari raya karaite, karena Shavuot dirayakan sebagai puncak panen gandum dan persembahan hasil pertama.
Baca Juga: Kajian akademik tentang penentuan tanggal Shavuot dalam Alkitab
Memasuki bulan ketujuh, Imamat 23:23–25 menyebut hari pertama bulan tersebut sebagai Hari Peniupan Sangkakala. Dalam tradisi Karaite, hari ini menandai pembukaan rangkaian raya penutup tahun. Tidak ada daftar ritual yang sangat rinci, namun perintah peniupan sangkakala dan pertemuan kudus menonjol sebagai simbol peringatan rohani.
Dalam kronologi hari raya karaite, Hari Peniupan Sangkakala mengingatkan umat pada transisi musim dan kebutuhan introspeksi. Mereka menghubungkan suara sangkakala dengan peringatan ilahi, panggilan bertobat, dan kesiapan menyambut hari-hari kudus berikutnya yang sarat makna penghakiman dan pengampunan.
Sepuluh hari setelah Hari Peniupan Sangkakala, komunitas Karaite memperingati Hari Pendamaian (Yom Kippur) sebagaimana diatur dalam Imamat 16 dan 23:26–32. Hari ini menuntut puasa total, penyangkalan diri, serta larangan bekerja. Nuansa hari tersebut sangat serius karena terkait penghapusan dosa dan pemurnian umat.
Kronologi hari raya karaite menempatkan Yom Kippur sebagai titik terdalam pertobatan tahunan. Umat diharapkan menelaah kembali perilaku setahun terakhir, memperbaiki relasi dengan sesama, dan memohon pengampunan kepada Tuhan. Sementara itu, struktur ibadah menggarisbawahi kekudusan hari tersebut dengan menahan diri dari segala bentuk kesenangan dan fokus pada doa.
Lima hari setelah Hari Pendamaian, dimulai Hari Raya Pondok Daun (Sukkot) selama tujuh hari, diikuti satu hari tambahan sebagai pertemuan khusus. Imamat 23:33–43 menegaskan kewajiban tinggal di pondok sementara sebagai pengingat perjalanan Israel di padang gurun. Di sisi lain, Sukkot juga berupa perayaan panen akhir, ketika gudang terisi dan kebun menghasilkan buah.
Dalam kerangka agraris, kronologi hari raya karaite menjadikan Sukkot sebagai penutup resmi musim panen. Sukacita, jamuan, dan pertemuan komunitas menandai rasa syukur atas keberhasilan kerja tangan sepanjang tahun. Meski ada variasi praktik, pusat maknanya tetap pada kesadaran akan ketergantungan manusia kepada penyediaan Tuhan, baik di padang gurun maupun di tanah subur.
Rangkaian dari Sabat mingguan, Paskah, Roti Tak Beragi, Omer, Shavuot, Hari Peniupan Sangkakala, Hari Pendamaian, hingga Sukkot menunjukkan bahwa kronologi hari raya karaite bukan sekadar daftar tanggal ibadah. Ia membentuk pola kehidupan yang menyatu dengan musim tanam dan panen, memadukan sejarah penebusan dengan realitas agraria umat.
Dengan mengutamakan teks Alkitab dan pengamatan langsung terhadap bulan serta musim, komunitas Karaite mempertahankan pendekatan yang mereka nilai paling dekat dengan praktik kuno Israel. Melalui kronologi hari raya karaite mereka menata ritme spiritual, sosial, dan ekonomi sepanjang tahun. Pola inilah yang terus menarik perhatian peneliti dan pencari informasi yang ingin memahami kembali hubungan antara kalender, tanah, dan ibadah.
This website uses cookies.